Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 September 2018

Ganti Langse Satu Potret Kerukunan Pendekar Silat

Ganti Langse Satu Potret Kerukunan Pendekar Silat


SIGAPNGAWI || Ritual Ganti Langse di Palenggahan Agung Srigati setidaknya ada satu catatan positif yang patut diambil hikmahnya. Bentuk prosesi budaya religi tersebut selama dua tahun terakhir dikemas berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kini, kemasanya pun lebih spetakuler didukung dengan pawai tiga gunungan mengandung filosofi sebagai sedekah bumi berisi sayur mayur dan hasil pertanian.
Kirab Ganti Langse yang digelar pada Senin, (24/09), melibatkan ratusan pendekar silat dari dua perguruan antara lain PSHT dan IKS PI. Dari awal start mereka terlihat guyub rukun bersama mengarak tiga gunungan sejauh tiga kilometer hingga dilokasi Pelenggahan Agung Srigati Alas Ketonggo masuk Desa Babadan, Kecamatan Paron, Ngawi.
“Alhamdulilah Ganti Langse ini sekaligus sebagai ajang untuk bersilaturahmi dengan saudara kita dari beberapa perguruan silat tadi. Mereka terlihat adem dan guyub rukun seperti inilah yang kita harapkan,” terang Dwi Rianto Jatmiko sesepuh PSHT sekaligus Ketua DPRD Ngawi, Senin, (24/09).
Hal yang sama juga diungkapkan Bupati Ngawi Budi Sulistyono menurutnya, Ganti Langse yang sudah mentradisi bisa menjadi wadah untuk menjaga kerukunan antar perguruan silat di Ngawi. Budaya seperti itulah harus dipertahankan terus dan bisa menjadi contoh positif untuk daerah lain yang kerap bersinggungan.
“Iya kerukunan seperti ini yang kita harapkan. Kalau didaerah lain ada gesekan antar perguruan silat kalau di Ngawi kita buat yang adem dan rukun,” jelasnya. (pr)



Minggu, 23 September 2018

Apa Itu Ganti Langse Di Alas Ketonggo Srigati ?

Apa Itu Ganti Langse Di Alas Ketonggo Srigati ?



SIGAPNGAWI || Ganti Langse atau adat budaya berupa ganti selambu mori putih yang difungsikan sebagai penutup Palenggahan Agung Srigati di Alas Ketonggo, Desa Babadan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, sebagai tradisi tahunan setiap bulan Muharam/Suro. Satu ritual tradisi yang sarat magis tersebut digelar secara khidmat penuh penghayatan diawali dengan penyerahan kain selambu mori warna putih bersih sepanjang 15 meter.


Selambu mori itu diserahkan oleh Suyitno selaku juru kunci Alas Ketonggo kepada Bupati Ngawi Budi Sulistyono dan diserahkan kembali ke Kepala Desa (Kades) Babadan Joko Setiyono didampingi para pejabat setempat, Senin, (24/09). Prosesi penyerahan selambu mori sendiri diiringi sebuah Tari Srigati yang dilakukan 8 penari yang masih gadis/perawan agar tercipta tari yang indah, luwes dan anggun pada saat prosesi tradisi dilakukan.


Menyusul acara yang paling ditunggu-tunggu yakni Ganti Langse dilakukan oleh para tokoh masyarakat dalam hal ini para perangkat Desa Babadan kurang lebih selama 15 menit. Kemudian Langse/mori yang sudah diganti diserahkan kembali kepada Suyitno selaku juru kunci Palenggahan Agung Srigati untuk dibagikan kepada warga masyarakat yang membutuhkan.
Ritual selanjutnya berupa bancaan atau biasa dikenal dengan kalimat slametan yang merupakan persembahan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dipimpin pemangku adat setempat. Dalam slametan ini dihidangkan berbagai makanan dan jajanan pasar. Untuk makananya dimulai tumpeng, urap-urap, bubur sengkolo, bubur merah putih, serta aneka ragam polo pendem. 


Sedangkan jajanan pasar ada tujuh jenis yang mewakili filosofi sebuah harapan pitulungan atau pertolongan yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Urap-urap memiliki simbol membahur atau bersatu padu serta menjadi manusia yang bermanfaat antara satu dengan yang lain.


Uniknya lagi bicara soal Langse/mori putih yang diambil dari Palenggahan Agung Srigati yang sudah tidak terpakai itupun boleh dikatakan menjadi barang kramat atau mempunyai tuah tersendiri. Terbukti, kurang dari 30 menit Langse/mori sepanjang 15 meter itu sudah habis dibagikan kepada warga dari berbagai daerah dengan cara dipotong-potong oleh para pemangku Palenggahan Agung Srigati. 


Usutpun jadi, menurut seorang pengunjung asal Solo Jawa Tengah mengaku kain Langse/mori yang baru dia dapat sangat dipercaya mampu menangkal segala macam bahaya dan dapat dipercaya memperlancar segala urusan baik ekonomi maupun lainya. 


Kemudian terkait tradisi Ganti Langsesendiri menurut Suyitno secara gamblang menerangkan asal-usul Palenggahan Agung Srigati maupun tradisi Ganti Langse itu sendiri. Suyitno secara tuntas menerangkan asal mula dari keberadaan Palenggahan Agung Srigati. Menurutnya sejarah mencatat keberadaan Srigati di Alas Ketonggo erat kaitanya dengan masa runtuhnya Kerajaan Majapahit kala itu dibawah Prabu Brawijaya V. 


Suyitno mengutip pernyataan Gusti Pangeran Dorodjatun dari Kasunanan Surakarta tahun 1974 ketika itu mendatangi Alas Ketonggo sesuai mata bathinya atau hasil penerawanganya mengatakan didekat lokasi Tempuran Pesing ada Punden Krepyak Syeh Dombo. Di punden itu mendasar keterangan Pangeran Dorodjatun saat itu dapat dikaitkan dengan riwayat perjalanan atau lengsernya Prabu Brawijaya sebelum muksa di puncak Gunung Lawu. 

Di Punden Krepyak Syeh Dombo yang sekarang dikenal Punden Srigati itu ditengarai Prabu Brawijaya melepaskan baju kebesaranya dengan dilanjutkan siram jamas di Kali Tempur yang berada kurang lebih 200 meter dari Punden Srigati. Setelah siram jamas sebagai bentuk penyucian diri lalu Prabu Brawijaya bersemedi/berdoa dan mendapatkan satu petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa untuk pergi ke puncak Gunung Lawu secara Islam dengan gelar Sunan Lawu. 


Histori itu kata Suyitno masih mengutip pernyataan dari Pangeran Dorodjatun, bahwa Alas Ketonggo pada dasarnya mempunyai riwayat keterpaduan dengan Kerajaan Majapahit. Hal itu sesuai survey Pangeran Dorodjatun yang diawali dari wilayah Trowulan Mojokerto sampai Alas Ketonggo berlanjut ke puncak Gunung Lawu. 


Sedangkan Tradisi Ganti Langse dimulai dan dilaksanakan sejak tahun 1988 oleh Mbah Somodarmojo Kepala Desa Babadan saat itu. Intinya GantiLangse merupakan bentuk perwujudan atas sebuah harapan kepada Tuhan yang Maha Esa sebagai harapan baru akan perjalanan hidup menuju ketentraman dan kesejahteraan. 


Untuk pelaksanaan tradisi Ganti Langsememang dilaksanakan setiap bulan Muharam/Suro tepat pada bulan purnama dalam hal ini jelas tanggal 15 hitungan bulan Hijriyah tanpa melihat hari maupun weton pasaran dalam hitungan penanggalan Jawa. (pr)




Kamis, 01 Maret 2018

Kapolres Ngawi Gowes dengan Instansi Terkait

Kapolres Ngawi Gowes dengan Instansi Terkait

NGAWI - Menjelang Pemilukada Tahun 2018, POLRI bersinergi dengan Sekda Ngawi - Waskita beserta anggota Polres Ngawi melakukan olah raga bersama dalam bentuk Goes bareng dengan Start dari Mako Polres Ngawi menuju perbatasan Ngawi-Sragen. Jumat (2/03/2018).


Goes Bareng ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan sinergitas dalam mensukseskan Pemilukada 2018, diharapkan dalam keadaan aman dan kondusif. Peserta Goes ini dipimpin langsung oleh Kapolres Ngawi MB. Pranatal Hutajulu, S.H., S.I.K., M.H.


Route Goes kali ini di mulai dari Mapolres Ngawi lanjut menuju Exit Tol Ngawi dan melewati Jalur Tol Ngawi -  berangkat dari Mako Polres Ngawi - Exit Tol - dan ke Perbatasan melalui jalur Tol. Dalam Goes Bareng ini selain meningkatkan sinergitas juga dalam bentuk Patroli bersama, melihat seberapa jauh tahap pengerjaan jalan Tol Moker ini bersama anggota PT. Waskita Karya.


Kapolres Ngawi AKBP MB Pranatal, saat istirahat sejenak di Exit Tol Widodaren menerangkan bahwa, kegiatan olahraga bersama yang dilaksanakannnya itu sebagai pembinaan terhadap personel untuk meningkatkan solidaritas dan kebersamaan antar personel Polfres Ngawi dengan Instansi terkait.


“Olahraga bersama bertujuan untuk menjaga kesehatan setiap anggota dan yang paling penting adalah untuk menjalin kerjasama yang baik antara pimpinan dan anggota dalam menghadapi pengamanan Pemilukada serentak 2018”, ucap Kapolres. (Jf)